psikologi keberuntungan
sains di balik mengapa beberapa orang selalu berada di waktu yang tepat
Pernahkah kita memiliki satu orang teman yang hidupnya seolah selalu dipandu oleh GPS kosmik bernama hoki? Teman ini rasanya selalu berada di waktu dan tempat yang tepat. Mereka tidak sengaja bertemu calon investor saat antre kopi. Mereka lolos dari kemacetan parah hanya karena iseng memilih jalan tikus. Mereka sering menang undian yang bahkan mereka lupa pernah mengikutinya.
Saat melihat fenomena ini, wajar jika kita tersenyum kecut sambil membatin, "Ah, dia mah emang garis tangannya bagus." Kita sering kali merasa keberuntungan adalah sebuah lotre genetik atau takdir mutlak. Seolah ada semacam debu peri gaib yang ditaburkan ke segelintir manusia pilihan saat mereka lahir, sementara kita sisanya dibiarkan berjuang dengan keringat dan air mata. Tapi, mari kita singkirkan sejenak konsep mistis tersebut. Bagaimana jika saya memberi tahu teman-teman bahwa sains memiliki penjelasan yang jauh lebih masuk akal? Bagaimana jika keberuntungan, pada dasarnya, bukanlah sihir, melainkan sebuah pola psikologis?
Sepanjang sejarah, manusia selalu berusaha menjinakkan ketidakpastian. Orang Romawi Kuno memuja Fortuna, dewi keberuntungan yang digambarkan membawa roda nasib. Jika rodanya berputar ke atas, kita jaya. Jika ke bawah, kita hancur. Konsep ini membuat manusia pasrah. Namun, sains modern memandang keberuntungan dari lensa yang sama sekali berbeda.
Psikologi kognitif mulai membedah fenomena ini bukan sebagai anugerah langit, melainkan sebagai serangkaian sifat yang bisa diukur. Para ilmuwan mulai bertanya, apakah ada perbedaan struktur berpikir antara orang yang sial dan orang yang beruntung? Pertanyaan ini memicu sebuah rasa penasaran yang besar di kalangan akademisi. Kita mulai menyadari bahwa orang-orang "beruntung" ini memancarkan semacam frekuensi unik. Mereka tidak mengendalikan alam semesta, tentu saja. Namun, mereka memiliki cara spesifik dalam merespons lingkungan sekitar mereka. Sebuah cara yang tanpa disadari mengundang peluang untuk datang mendekat.
Untuk membuktikan hal ini, masuklah Dr. Richard Wiseman, seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire yang kebetulan juga seorang mantan pesulap profesional. Menjelang akhir era 90-an, ia memulai sebuah penelitian epik selama sepuluh tahun yang disebutnya The Luck Project.
Wiseman mengumpulkan ratusan sukarelawan. Ia membagi mereka menjadi dua kelompok ekstrem: kelompok yang merasa hidupnya selalu dipenuhi kesialan, dan kelompok yang merasa selalu beruntung. Wiseman kemudian memberikan sebuah tugas yang terdengar sangat sepele. Ia membagikan sebuah koran tebal kepada setiap peserta dan meminta mereka menghitung berapa jumlah foto di dalamnya. Kelompok orang sial membutuhkan waktu rata-rata dua menit untuk menyelesaikan hitungan tersebut. Sementara itu, kelompok orang beruntung hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja.
Padahal koran yang diberikan persis sama. Ruangan yang digunakan sama. Tidak ada trik sulap di sini. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kelompok yang beruntung bisa memecahkan masalah ini ratusan kali lebih cepat? Misteri ini menyimpan satu rahasia besar tentang cara kerja otak kita.
Inilah kejutan besarnya. Ternyata, di halaman kedua koran tersebut, Wiseman telah memasang sebuah teks raksasa berukuran setengah halaman yang bertuliskan: "Berhenti menghitung, ada 43 foto di koran ini."
Kelompok orang beruntung melihat tulisan itu, tertawa, dan langsung menjawab. Kelompok orang sial melewatkannya begitu saja karena mereka terlalu sibuk membalik halaman demi halaman untuk mencari foto. Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut inattentional blindness atau kebutaan karena kurangnya atensi.
Ketika kita merasa cemas atau terlalu fokus pada satu hal yang spesifik (seperti menghitung foto), otak akan melepaskan hormon stres. Stres ini secara harfiah mempersempit bidang pandang visual dan kognitif kita. Orang-orang "sial" bekerja terlalu keras, terlalu kaku, dan terlalu tegang. Sebaliknya, orang-orang "beruntung" memiliki tingkat kecemasan yang rendah. Pikiran mereka rileks. Radar mereka terbuka lebar. Mereka tidak hanya melihat apa yang mereka cari, tetapi juga melihat apa yang ada di sana.
Dari eksperimen ini, Wiseman menyimpulkan bahwa orang beruntung secara tidak sadar mempraktikkan empat prinsip sains. Pertama, mereka ahli menciptakan dan memperhatikan peluang acak. Kedua, mereka membuat keputusan berdasarkan intuisi tubuh. Ketiga, mereka memiliki ekspektasi yang selalu positif terhadap masa depan. Dan keempat, yang paling penting, mereka sangat tangguh (resilient). Saat kesialan datang, mereka tidak meratap, melainkan membingkainya ulang dengan berkata, "Untung cuma begini, coba kalau lebih parah."
Jadi teman-teman, sains telah berbicara dengan sangat lantang. Keberuntungan bukanlah tentang seberapa sering alam semesta tersenyum pada kita. Keberuntungan adalah tentang seberapa rileks kita membuka mata untuk melihat peluang yang lewat di depan hidung kita.
Ini adalah kabar yang sangat membebaskan. Mengapa? Karena itu berarti keberuntungan layaknya otot. Ia bisa dilatih. Kita tidak perlu lahir dengan bintang jatuh di pangkuan kita. Kita hanya perlu sedikit melonggarkan ekspektasi yang kaku. Kita bisa mulai dengan mengubah rute perjalanan saat berangkat kerja, menyapa orang asing di sebelah kita, atau sekadar melepaskan gawai dan mengamati sekitar saat sedang mengantre.
Terkadang, hidup tidak menyembunyikan keajaibannya. Hidup hanya menuliskannya di "halaman kedua" dengan huruf kapital yang sangat besar. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita cukup rileks hari ini untuk membacanya? Mari kita tarik napas panjang, tersenyum, dan biarkan kebetulan-kebetulan kecil yang menyenangkan menemukan jalan menuju kita.